Tome shi tahun ini mengadakan matsuri untuk pertama kalinya. Dan angklung mendapat kehormatan mengisi acaranya. Persiapan sudah lumayan mantap juga kita datang tepat waktu di Kotodai Koen, tempat dimana bis menjemput. Saya (budiyati) sekeluarga sampai dibela-belain naik taksi karena takut terlambat.
Pak Risdi yang kebetulan sedang di Sendai tidak ketinggalan ikut bergabung. Natsukashi katanya. Sayang ya jeng Unixnya tidak diajak, kita-kita kangen nih sama jeng Unix. Kapan-kapan kalau ada kesempatan ke Sendai ajak jeng Unix dan ichiro ya Pak!
Jam 7.30 sudah sampai di kotodai koen, anggota yang lain juga paling lambat jam 8 sudah datang. Ditunggu-tunggu kok bisnya tidak berangkat-berangkat? ternyata ada pengisi acara dari Brazil yang belum datang. Okelah mungkin ditunggu sampai beberapa menit. Setengah jam berlalu belum tampak juga batang hidungnya. Orang-orang lain mulai gelisah.
Pak Dida yang sudah lari-lari ketoilet karena takut ditinggal sampai sudah kerasa mau ke toilet lagi. Make up bu Ade juga mulai luntur tuh! anak-anak mulai gelisah, bayi-bayi (kebetulan ada 2 bayi yang ikut yaitu Lula dan bayi Turki) mulai menangis.
Satu jam sudah berlalu, panitia mengumumkan sudah mau berangkat, tiba-tiba ada orang lari-lari baru datang. Ternyata si burajiru tanpa kata-kata maaf langsung aja dia mencari tempat duduk. Hehehe... lain negara lain budaya kali yah. Kali ini yang mengherankan, kenapa panitia sampai mau memberi toleransi waktu selama itu ya? Mungkin karena panitia sudah mengerti kalau berurusan dengan orang asing yg beda budaya, masalah jam karet adalah sudah biasa? Atau memang ada alasan rasional yang memang benar-2 memaksa orang Brazil itu terlambat 1 jam? Nggak tahu deh…
Perjalanan selama 1.30 menit lumayan capek, dan lebih capek lagi karena menunggu si burajiru selama 1 jam. Mana ternyata dia menari tidak sampai 2 menit masih mending tari merak (suit..suit...hehehe...) atau tari piring ya Def? Tim angklung sempat latihan sekali sebelum tampil dan ternyata dibandingkan penampilan yang lain angklung mendapat sambutan paling meriah.
Tidak heran karena setelah selesai tampil ada sesi penonton mencoba memainkan angklung. Dan ini tidak dilakukan oleh performer yang lain. Penonton benar-benar excited. Dan tentu ini berkat tangan dingin Yonan sensei.
Setelah semua performance selesai dilanjutkan dengan makan-makan. Berbagai macam hidangan japanese tersedia. Tim angklung juga membawa puding santan gula merah olahan bunda Nenden. Tapi tidak sempat dibawa ke ruang makan karena keburu ludes di ruang pameran.
Sebetulnya tim angklung sudah bawa bento sendiri-sendiri karena katanya panitia tidak menyediakan makan siang. Tapi walaupun sudah pada makan bento masing-masing, melihat hidangan menggugah selera siapa yang menolak!
Akhirnya sekitar jam 2 kita meluncur kembali dengan bis yang sama ke Sendai. Tahun depan ada matsuri lagi enggak ya di Tomeshi?
No comments:
Post a Comment