Tuesday, 26 August 2008

Selamat Jalan Eyang

Pernah aku cerita perjalanan hidupku disini dan disini, dimana saat aku lulus SD diminta ikut (istilah bahasa jawanya ngenger) dirumah Eyang Saryono(biasa aku panggil Eyang). Beliau adalah kakak simbahku. Jadi sebetulnya hubungan kekerabatannya sudah jauhhhh. Cuma karena keluarga besarku asalnya ndeso jadi kekerabatannya masih lumayan akrab sampai tingkat mbah buyut.

SMP sampai SMA aku ngenger dirumah Eyang. kakakku sebelumnya lebih duluan ikut Eyang. Sebelum kami, beberapa kerabat juga banyak yang ngenger dirumah Eyang. Karena diantara 6 bersaudara mbahku, Eyang ini yang paling berada. Berada dibandingkan keluarga yang lain maksudnya. Beliau adalah mantri pertanian jaman Belanda dan berlanjut jadi pegawai negeri setelah Indonesia merdeka.

Saat aku ikut Eyang, beliau sudah pensiun. Keadaan ekonominya sangat sederhana. Selain memelihara kami, Eyang masih membiayai 2 putranya yang masih kuliah.Kesibukan beliau setelah pensiun adalah bertani. Eyang terkenal sebagai orang yang sangat memperhatikan unggah ungguh (tata krama dalam jawa), disiplin bahkan cenderung keras. Sering aku dulu dibuat menangis karena kena marah. Yaahh ..pokoknya dulu aku suka merasa Eyang itu galak

Tapi ada satu hal yang membuat aku terenyuh. Selepas SMA aku ikut bimbel di Jogya..gaya banget yaa...orang gak punya kok nekat ikut bimbel. Gak tahu dulu kayaknya gak pede kalau gak ikut bimbel. Saat itu tiba-tiba datang salah satu putra Eyang. Katanya diminta Eyang mengecek keadaanku di Jogja. Betapa terharunya diriku, ternyata beliau perhatian dan khawatir padaku.

Ada satu hal yang bikin aku geli sampai sekarang. Ceritanya aku diterima masuk STAN. Yaa...STAN adalah sekolah paporit buat kalangan bawah seperti aku. Gratis dan setelahnya langsung kerja. Begitu selesai lihat pengumuman di BPLK Jogja, dimana aku harus berdesak-desakan dengan ribuan orang. Begitu aku melihat nomor dan namaku terpampang aku segera pulang. Segera aku kabarkan ke Eyang. Seketika Eyang tidak percaya aku lolos masuk STAN. Bukan apa-apa, karena dua putra Eyang yang lebih pintar dari aku, sebelumnya daftar STAN tidak ada yg diterima. Mungkin aku lagi beruntung yaa...

Karena ragu, Eyang meminta esoknya aku disuruh balik lagi ke Jogja memastikan hasil pengumuman sekali lagi. Dan Alhamdulillah benar..aku tidak salah lihat. Itulah saat dimana aku merasa bisa membahagiakan dan membuat bangga Eyang. Selama ini aku merasa hanya menjadi beban dan merepotkan Eyang.

Sampai tadi pagi, saat aku telpon kerumah dari ibuku aku mendapat kabar Eyang sudah meninggal dunia tadi malam. Memang sudah beberapa saat beliau sakit karena sudah sepuh (tua) umur beliau 86 tahun. .

Selamat jalan Eyang....engkaulah bapak kedua bagiku. Maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa segala kedisiplinan dan sikap kerasmu itulah yang membuatku menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Kalau tidak mungkin aku tidak akan disini saat ini.

Ya Allah ampunilah segala kesalahan dan dosa Eyang Saryono, terimalah amal ibadahnya dan tempatkan arwah beliau disurga-MU.

No comments: