Sejak bapak meninggal saat aku umur 3 tahun, emak menitipkan aku pada embah. Emak mengembara bekerja dari satu rumah ke rumah lain. Dari satu kota ke kota lain. Aku bertemu emak hanya saat lebaran tiba. Karena emak akan pulang kampung. Saat itulah kesempatan aku bermanja-manja ke emak. Masih ingat walau aku sudah SD masih suka minta gendong. Tidak selalu diluluskan karena aku sudah berat. Dibilangnya aku ngadi-adi (manja). Duuh...sedih deh rasanya..menerima penolakan emak.
Sejak saat itu juga embah menjadi sosok pengganti emak. Embah yang selalu siap menggendongku saat aku deman, panik dan membelaku saat aku menangis berantem dengan teman, ngeloni (menidurkan) saat aku tidur, mencarikan sekolah dan menjadi tempat curhatku.
Tidak terasa sampai dewasa, aku merasa lebih dekat, lebih nyambung hatiku, lebih bisa bermanja-manja, merangkul dan berpelukan dengan embah. Baru kurasakan bedanya dengan sikapku pada emak saat emak tinggal bersamaku, 22 tahun kemudian.
Kok..aku jadi kaku yaa....dan emak juga merasakan hal yang sama. Emak cemburu karena aku lebih mesra, lebih perhatian, lebih bisa curhat dan berangkulan. Tapi aku bertekad dalam hati, akan mengubah semua ini. Bagaimanapun emak meninggalkan kami karena demi masa depan anak-anaknya. Dengan mengorbankan naluri seorang ibu untuk berdekatan dengan anak-anaknya. Aku tidak akan membuat emak cemburu lagi.
No comments:
Post a Comment