Tuesday, 26 August 2008

Duka Derita Christine (2)

Itulah yang diceritakan kepadaku setelah beberapa hari aku ketemu dengannya. Tentu aku juga sangat terkejut mendengarnya. Kebetulan suaminya tetangga lab dengan suamiku. Mereka sering ketemu dan ngobrol tentang riset. Saat aku ceritakan hal ini pada suamiku, ternyata suamiku sudah menduganya. Suamikupun tahu dengan selingkuhan suaminya. Dia orang Australia guru bahasa inggris di departemen material, departemen suamiku dan suami Christine.

Yang Christine tidak habis pikir, kok selingkuhannya itu sudah setengah baya. Sudah berumur 50-an. Sedangkan Christine dan suaminya masih berumur 30-an. Suamiku pikir karena mereka saling membutuhkan. Suami Christine kesepian dan si bule juga begitu. Karena diumurnya yang ke-50 belum menikah.

Aku hanya bisa memeluk saaat Christine bercerita sambil berurai airmata. Akhirnya keluar cerita lainnya. Ternyata selama ini suaminya tidak pernah mengirim uang buat dia dan anak-anak. Kalau ditanya selalu bilang uangnya habis. Untunglah Christine di Zimbabwe bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Tapi kehidupan di Zimbabwe sangatlah sulit. Pernah anak keduanya sakit serius dan perlu operasi. Dan suaminya sama sekali tidak peduli.

Terpaksa Christine mencari hutangan. Begitulah selama ini sejak ke Jepang belum pernah sepeser uang atau selembar baju dikirimkan untuk anak-anaknya. Telpon juga semakin jarang. Sampai akhirnya Christine bertekad menyusul suaminya. Ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Sebenarnya dia ingin mengajak anak-anaknya. Tapi harga tiketnya sangatlah mahal. Untuk beli tiket aja dia pinjam ke bank. Perjalanannya juga sangat panjang. 20 jam dan transit beberapa kali.

Anak-anak dia titipkan kepada ibunya. Christine menyusul sendirian. Tapi mungkin itu yang terbaik, karena ternyata sungguh pahit apa yang akan dia alami setelahnya. Sejak itu pertengkaran-pertengkaran sering aku dengar dari kamarnya. Untuk mengalihkan penderitaan dan kesepiannya, sering aku ajak dia ke acara-acara dengan orang Jepang. Selain itu dia mengambil kursus bahasa Jepang.

Ternyata suaminya sangat kasar dan ringan tangan. Saat itu musim dingin mulai datang. Sering kalau ada pertengkaran Christine dipukul dan diusir dari rumah. Tidak peduli sedang tengah malam atau pagi buta. Christine yang tidak tahu harus kemana, sungkan mengetuk pintu rumahku. Tanpa sepatu dan hanya berbaju tidur, dengan berlinang air mata, dia berjalan.

Terseok-seok langkahnya, terduduk dia didepan sunmari. Supermarket dekat rumah. Salju rintik-rintik turun. Dingin menggigit. Tiba-tiba datang polisi mendekat. Menanyakan identitas dan apa yang terjadi. Akhirnya diantarkannya Christine pulang. Aku berpesan, kalau suami mengusirnya untuk mengetuk pintu rumahku. Tapi sepertinya dia tidak mau melibatkan aku dan suamiku. Cukup aku menjadi pendengar cerita, katanya.

Itu tidak terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali. Sampai akhirnya dipuncak kesedihan karena didorong dan diusir dari rumah, dia menelepon teman Jepangnya. Teman yang dia kenal disuatu acara internasional. Akhirnya dia dijemput temannya untuk menginap dirumahnya. Kebetulan bapak temannya kenal dengan sensei suaminya.

Akhirnya bapak temannya cerita apa yang terjadi kepada sensei suaminya. Marah sekali sensei suaminya saat tahu apa yang terjadi. Suami Christine dipanggil dan dimarahi. Kenapa kalau cuma mau disiksa, istrinya dibawa ke Jepang? Tapi bukannya sadar, suami Christine tambah murka pada Christine kenapa senseinya sampai tahu apa yang terjadi.

Bersambung

No comments: