Tidak terasa anak lanangku (lelakiku) sudah besar. Sepertinya baru kemarin melahirkannya. Sekarang sudah mulai masuk SD.Heemmm..sebentar lagi kayaknya dah mau remaja Biasanya di TK dulu selalu antar jemput sekolahnya, mulai sekarang ito berangkat dan pulang sekolah sendiri.
Anak masuk SD di Jepang lain dengan di Indonesia. Sebelum lulus TK, kita sudah dapat pemberitahuan dari kantor kecamatan di SD mana anak kita sekolah. Biasanya dicarikan yang dekat rumah. Tidak ada SD dan SMP favorit seperti di Indonesia. Dari mulai bentuk bangunan sampai materi pelajaran sepertinya seragam di seluruh Jepang.
Ada program wajib belajar 9 tahun di Jepang, dan pemerintah benar-benar bertanggungjawab mencarikan SD dan SMP. Tidak perlu ada tes masuk. Baru mulai SMA ada tes untuk bisa masuk SMA yang negeri.
Perlengkapan sekolah mulai tas, alat-alat tulis sampai baju olahraga dibuat seragam. Kalau alat-alat tulis dan baju seragam mungkin hampir sama dengan yang di Indonesia. Tapi kalo tas Unik banget,tasnya biasa disebut Randoresu(dari bhs inggris ransel). Harganya antar 10ribu yen sampai 50rb yen. Tas ini mahal karena awet untuk dipakai selama 6 tahun sampai lulus SD. Tapi kalau tidak mau beli dari sekolah dipinjemi bekas anak-anak yang sudah lulus atau orang asing yang mudik dan menghibahkan tasnya.
Karena pulang sekolah jam 2 sampai jam 4, maka anak makan siang di sekolah. Alhamdulillah SDnya ito, SD Jepang - internasional karena didaerah ini ada Internasional house dimana banyak mahasiswa asing yang menyekolahkan anaknya disini.Para senior terdahulu yang kebanyakan muslim dari Mesir, Turki termasuk Indonesia memperjuangkan agar makan siangnya bisa dibuat halal. Dari mulai bahan yang dimasak, bumbu-bumbu sampai alat untuk masak dipisah dengan yang untuk anak Jepang.
Kita memberikan daftar apa saja yang boleh(halal) dan tidak(haram) dimakan. Berkat perjuangan mereka sekarang aku sudah tidak repot menyiapkan bentou buat ito. Hanya kalau pas bento roti diminta bawa sendiri karena semua roti memakai lard (lemak babi).
Karena kebetulan Bapaknya ito penerima beasiswa dimana penghasilannya bebas pajak(dibawah PTKP) maka kita tidak mengeluarkan biaya apapun kecuali beli perlengkapan sekolah. Biaya administrasi, kegiatan dan makan siang disubsidi dari pemerintah. Alhamdulillah .
Mungkin ini yang dimaksud subsidi silang yang kaya membantu biaya pendidikan penduduk miskin
No comments:
Post a Comment