Monday, 25 August 2008

Dontosai

Osaki Hachiman Jinja, Jinja terbesar di Sendai setelah Shiogama Jinja dibangun Date Masamune (pendiri kota Sendai). Modelnya meniru jinja Toyokuni di Kyoto. Ini merupakan struktur tertua yg pernah dibangun dg gaya Toshoku yang dibangun tanpa memakai paku satupun. Hchiman Jinja dibangun 400 tahun yang lalu, dengan dewa yang dipujanya adalah Ojin Tenno (Kaisar Ojin), Chuuai Tenno (Kaisar Chuuai) dan Jingu Kogu.

Di Sendai banyak sekali festival. Salah satunya adalah Dontosai yang diadakan di Hachiman Jinja. Tujuan festival ini adalah membakar Omamori (jimat) tahun lalu dan berdoa supaya mendapat nasib bagus tahun ini. Arti harfiah omamori - O artinya bentuk hormat, sedangkan mamori dari kata mamoru artinya melindungi atau memelihara atau merawat dsb.


Orang Jepang memang sangat percaya pada omamori yang bisa mereka beli di kuil atau di tempat2 khusus orang menjualnya seperti

Kotsuanzen (mereka pasang / digantung di mobil) agar terhindar dari kecelakaan
Egimono (barang-barang yang dianggap akan membawa keberuntungan)
Kumade yang berarti tangan beruang, boneka tapi dibelakangnya bambu berbentuk pencakar yang dianggap sebagai simbol tangan beruang) mereka yang memajang benda tersebut akan mendapatkn rezeki yang berlimpah, karena rezekinya ditangkapin oleh kuku beruang. Kemarin harga kumade yang besar harganya mencapai 150 ribu yen.
Para penjual omamori tersebut walaupun barang2 tersebut dibuat sendiri sebelum mereka jual didoakan atau diberkahi dulu oleh kannusi, ada yang membayarnya sampai 50 rtibu yen.

Saat festival, peserta berjalan dalam barisan dan Hadaka (hampir bugil). mereka membunyikan lonceng selama upacara berlangsung. Suasana menjadi mistis karena instrumen yang berbunyi selama upacara.

Upacara ini diadakan setiap tahun sekali pada tanggal 14 Januari. Pada tahun ini bertepatan dengan hari minggu. Mereka mengangap perayaan tahun baru berakhir pada tanggal 14 Januari. Kegiatan diadakan mulai jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Tapi puncak acara dari jam 4 sore sampai jam 8 malam.

Ada beberapa kelompok yang ikut serta dalam upacara ini. Yaitu masyarakat biasa, sekolah/universitas dan perusahaan -perusahaan. Masyarakat biasanya datang bersama keluarga. Ritual yang dilakukan adalah memberi sedekah kepada kuil dan Kannushi (pendeta agama shinto), membunyikan lonceng kemudian bersembahyang ala agama shinto.

Untuk perusahaan dan sekolah/universitas yang ikut (ada sekitar 60 kelompok), dengan berHadaka mereka berjalan kaki beberapa kilometer dari sekolah/perusahaan masing-masing menuju Jinja. Mulai dari pucuk pimpinan perusahaan dan karyawan yang ditunjuk, ikut serta meramaikan festival ini.

Mereka membawa persembahan diantaranya ikan, sayuran dll. Kemudian pimpinan perusahaan diikuti anak buahnya akan diberkati oleh Kannushi. Setelah diberkati mereka meneguk secawan sake yang disimpan dikuil selama beberapa tahun.


Setelah itu barulah mereka menuju tempat pembakaran jimat dan berjalan mengelilingi api pembakaran sambil membawa jimat perusahaan masing-masing untuk dibakar. Selesai membakar jimat mereka kembali bersembahyang didepan api. Banyak sekali macam-macam benda yang mereka bakar kemarin antara lain kadomatsu, tamagami, kotobuki, nentokugami, daruma, kumade, kotsuanzen, takara no fune dsb.

Mereka membakar semua benda-benda yang bermakna keyakinan atau simbol-simbol para dewa atau yang didewakan oleh mereka yang telah digunakannya selama satu tahun. Kemudian mereka membeli yang baru yang dijual di kuil-kuil; ataupun arena matsuri. Karena barang2 tersebut (walaupun misalnya pajangangan) tapi bersifat sakral jadi tidak boleh dibuang sembarangan atau dibuang ke tempat sampah, maka sarananya kuil2 dijadikan tempat untuk membakar barang2 nya.

Kalau lihat terjemahan dari beberapa web yg aku baca, dontosai diartikan dengan Pilgrime yang identitik dengan ibadah "haji"nya orang agama shinto. Kalau aku, jadi ingat kebiasaan orang arab jahiliah yang melakukan prosesi mengelilingi kabah sambil membawa patung dengan telanjang dan bertepuk tangan mengelilingi kabah.

Yang menarik waktu dontosai para direkturnya pakai baju kimono yang lumayan hangat sedangkan pegawainya hampir telanjang. Kebayang gak sih..dingin-dingin suhu dibawah 0 derajat berbugil ria dan berjam-jam. Yang aku lihat mereka jalan sambil menggigil kedinginan, semoga saja tidak pada masuk angin setelahnya ya!

Perusahaan dari para karyawan sampai pada presdirnya datang untuk meminta berkah/kesuksesan dalam usahanya. selain itu bagi mereka yang hadaka (telanjang) sesungguhnya memiliki arti yang lebih sakral mereka ingin dirinya juga menjadi suci atau bersih dan atau dijauhkan dari berbagai macam bencana. mereka juga meminta berkah para dewa di kuil dan para pendeta, mengelilingi api berputar-putar karena asapnya berasal dari simbol2 benda sakral. di mulut mereka menggigit kertas putih isinya adalah uang koin, karena tradisinya kalau berdoa melempar uang terlebih dahulu.

Sebenarnya kalau perusahaan untuk mendapatkan berkah tidak sedikit uang yang mereka keluarkan. mereka juga membawa simbol persembahan pada dewa2 kuil. Pandangan orang Jepang tidak ada satu tempat pun yang tidak dihuni oleh dewa, di gunung, di lautan, di batu , di sungai bahkan di gelombang yang panas pun terdapat dewa. Mereka yakin para leluhur mereka yang telah meninggal pun menjadi dewa dan mereka sendiri bila meninggal dalam jangka waktu tertentu akan menjadi dewa dan bergabung dengan para leluhurnya tersebut. Dalam pemikiran mereka tidak ada Tuhan pencipta alam semesta dan pencipta manusia.

Hadaka juga bermakna sangat religius bagi mereka dalam arti percaya akan mendapatkan sesuatu kekuatan yang bersifat magis dari para dewa yang mereka yakini sehingga mereka bisa sukses atau kuat dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan atau sesuai dengan niatnya masing-masing. Sementara para pimpinan mereka pun harus berpakaian yang penuh dengan wibawa kepemimpinan mereka, tapi tetap dalam konteks mereka pun mohon keberkahan dari para dewa ataupun kannushi.

Menikmati dontosai bareng mbak Elsi dan bu Eti yang dosen bahasa Jepang bisa sekalian diskusi. Selain kegiatan festivalnya sendiri yang menarik adalah banyak orang berjualan makanan khas Jepang. Jarang-jarang ada pasar kaget ala kakilima di Indonesia di Jepang. Berbagai makanan dan kerajinan khas Jepang dijajakan disini.

Muter-muter lihat makanan ngiler juga. Cari-cari yang boleh dimakan ketemu sama takoyaki. Kita sempat mencicipi takoyaki, tapi sayang takoyakinya masih kalah enak sama buatan Kuni san (teman kami orang Jepang).


Selain itu juga dijual berbagai macam jimat, seperti yang aku sebutkan diatas. Geli juga sih mikir orang Jepang yang sudah sedemikian maju teknologi dan selalu berpikir rasional, tapi masih percaya jimat-jimatan.


Selain itu juga ada counter peramalan nasib. Kita beli Omikuji (kertas ramalan) buat iseng, mirip-mirip ramalan bintang gitu. Kalau mau juga bisa berjudi namanya Takara Kuji, sekali main bayar 300 yen. Hadiahnya macam-macam diantaranya play station, nitendo, ipod dll.

No comments: