Tuesday, 26 August 2008

Duka Derita Christine (3)

Setelah sensei suami Christine tahu apa yang terjadi, timbul simpatinya kepada Christine. Diajaknya Christine bertemu untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Akhirnya keluarlah semua cerita tentang suaminya. Bagaimana selama ini suaminya memperlakukan anak-anak dan dirinya. Terutama bahwa suaminya tidak pernah mengirimkan uang ke Zimbabwe. Bahkan ternyata selama Christine di Jepang suaminya jarang memberi uang untuk membeli makanan. Kalaupun memberi sangatlah minim.

Terus aku tanya bagaimana dia membeli makan? Christine bilang, sensei suaminya yang memberi uang untuk makan. Sensei suaminya juga berpesan agar kalau ada masalah menghubunginya. Sejak tahu hal itu, kalau aku membuat masakan yang kira-kira Christine bisa menyantapnya, aku kirim masakanku.

Pantas saja selama 5 bulan berat badan Christine turun drastis, 14kg!!! Waktu datang aku julukin dia big mama, sekarang jadi langsing banget. Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Sinar mata Christine yang kian meredup membuatku khawatir. Aku hanya berharap Christine bertahan sampai waktunya datang untuk pulang ke Zimbabwe.

Ya sejak mengetahui tingkah suaminya Christine sudah tidak tahan untuk lama-lama di Jepang. Ditambah kerinduan pada anak-anaknya membuat ingin secepatnya pulang. Awalnya dia masih berharap suaminya mau berubah dan meninggalkan wanita itu. Christine bilang masih cinta pada suaminya. Tapi melihat perkembangan tingkah suaminya yang tidak membaik dan bagaimana wanita itu sering datang kerumah dan suaminya tidak membela malah memarahi bahkan memukulnya, akhirnya Christine menyerah.

Tapi untuk bisa pulang tidaklah mudah. Untuk datang kesini saja Christine harus berutang dari bank. sedangkan tiket pesawat Jepang-Zimbabwe tidaklah murah. Akhirnya Christine mempunyai ide untuk mencari pekerjaan. Sesuai dengan pekerjaannya dulu di Zimbabwe sebagai guru bahasa Inggris, berkat ketekunannya mencari info diinternet Christine berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di Shokai University. Sebuah universitas diluar kota Sendai. Christine berusaha menabung untuk biaya pulang, syukur-syukur ada sisa untuk biaya hidupnya nanti di Zimbabwe.

Suaminya semakin jarang pulang, tapi Christine tidak peduli. Kadang masih suka pulang, karena masih suka aku dengar pertengkaran dari kamar mereka. Pernah beberapa kali petugas air, gas dan listrik datang memberitahukan akan memutus alirannya. Karena beberapa bulan tidak dibayar. Christine bertanya kenapa tidk dibayar? suaminya bilang tidak ada uang. Yaa..mungkin uangnya diminta oleh selingkuhannya. Mana sekarang anaknya sudah semakin besar. Yaa..anak hasil selingkuhan suaminya telah lahir sebulan setelah Christine datang.

Apalagi setelah suaminya tahu Christine kerja, dia minta Christine yang membayar tagihan air, listrik dan gas. Tentu saja Christine tidak mau. Setelah beberapa kali akan diputus, akhirrnya listrik dan air benar-benar diputus bulan ini. Waktu pulang dari mengajar Christine akan mencuci piring. ternyata airnya tidak mengalir. Akhirnya dia datang kerumahku meminta air, sekalian numpang mandi. Begitu juga dengan listriknya, untuk beberapa hari Christine harus bertahan dengan sinar lilin pemberianku.

Sebetulnya aku ingin mengajak Christine tidur dirumahku. Cuma ito dan Lula kayaknya masih agak sungkan kalau ada Christine dirumah. Lula yang biasanya cerewet jadi diem aja. Mungkin karena kulit hitam Christine yang membuat Lula agak takut. Sedangkan Christine sangat ingin bisa dekat dengan anak-anak. Untuk mengobati kerinduan akan anak-anaknya. Sampai-sampai dia ingin dipanggil mama Christine.

Bersambung.

No comments: