Bukan....bukan kakiku yang berbuah, tapi ini tentang buah kesemek bahasa Jepangnya KAKI. Sehabis musim panas menjelang musim gugur mulai musim buah kaki. Dulu waktu kecil masih suka nemu buah ini dipasar, tapi sekarang sudah jarang banget hampir bisa dibilang tidak pernah sampai kemudian aku menemukan kembali di Jepang.
Kemarin waktu Masako san main kerumah bawain buah ini. Katanya metik dikebon kakeknya. Memang agak lain rasa buah kesemek Indonesia dan Jepang. Kalau kesemek Indonesia agak sepet, kesemek Jepang ada 2 macam. Yang sepet biasanya untuk dikeringkan jadi manisan, yang manis dimakan langsung. Rasanya yang kenyal, manis dan segar sangat cocok menjadi buah diawal musim gugur yang udaranya mulai dingin.
Kesemek adalah nama sejenis buah-buahan dari marga Diospyros. Tanaman ini dikenal pula dengan sebutan buah kaki, atau dalam bahasa Inggris dinamai Oriental (Chinese/Japanese) persimmon. Nama ilmiahnya adalah Diospyros kaki. (‘Kaki’, bahasa Jepang, adalah nama zat tanin yang dihasilkan buah ini).
Kesemek yang matang berwarna antara jingga kekuningan sampai kemerahan dan berdiameter antara 2-8 cm. Buah ini dapat dimakan langsung dalam keadaan segar setelah diolesi dengan air kapur dan diperam, agar rasa sepatnya hilang. Dapat juga dikeringkan atau diolah menjadi selai, agar-agar, es krim dan lain-lain. Buah kesemek segar mengandung 19,6% karbohidrat, terutama fruktosa dan glukosa, 0,7% protein, vitamin A dan kalium.
Buah kesemek yang muda mengandung zat tanin yang dinamai tanin-kaki, yang menimbulkan rasa sepat pada buah. Zat ini akan berkurang bersama dengan masaknya buah. Tanin-kaki dimanfaatkan untuk mengawetkan berbagai kerajinan tangan, membantu produksi arak-beras di Jepang, serta bahan pengobatan penyakit hipertensi.
Asal-usul dan penyebaran
Kesemek berasal dari Tiongkok, yang kemudian menyebar ke Jepang pada jaman purba dan dikembang biakkan. Belakangan buah ini menyebar ke bagian lain Asia, dan pada masa kolonial di tahun 1800an dibawa ke Eropa selatan dan Amerika (Kalifornia).
Buah ini cukup penting dalam tradisi Tiongkok dan Jepang, sehingga nilai komersialnya tinggi. Kini komersialisasi produksi kesemek telah merembet dan meluas ke Selandia Baru, Australia dan Israel. Ekspor dari Israel inilah yang dinamai sebagai Sharon fruit.
Buah Kesemek di Indonesia
Di Indonesia, Malaysia dan Thailand, produksi kesemek umumnya hanya cukup untuk konsumsi lokal. Sumatera Utara, khususnya wilayah Brastagi, di waktu lalu pernah secara tetap mengirimkan kesemek untuk Singapura; namun kini terhenti karena kualitasnya terdesak oleh kesemek produk negara-negara lain. Tempat-tempat lain di Indonesia yang menghasilkan kesemek di antaranya adalah Jawa Barat dan Jawa Timur, di mana buah ini ditanam pada daerah-daerah tinggi di pegunungan.
SETIAP menjelang pergantian musim, para petani umumnya sudah bersiap-siap melakukan penanaman, dengan perhitungan curah hujan akan relatif tinggi pada saat itu. Berbagai ramalan cuaca dari badan meteorologi umumnya menjadi pegangan, dalam perencanaan penanaman suatu komoditas yang disesuaikan dengan jumlah curah hujan.
Kendati demikian, sejumlah petani di Jabar, terutama wilayah Priangan, sejak lama memiliki parameter tradisional untuk menghitung datangnya musim kemarau dan musim penghujan. Adalah pohon buah kesemek, yang menjadi pertanda cukup ampuh membaca musim, terutama persiapan memulai atau menghentikan penanaman komoditas sayuran.
Cara tradisional ini, di antaranya masih dilakukan banyak petani di Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Kendati demikian, jumlah pohon kesemek kini jumlahnya sudah sangat sedikit, karena banyak petani tak mengusahakan lagi akibat nilai jualnya sangat rendah.
Keberadaan pohon kesemek, umumnya tinggal sebagai tanaman pengisi kekosongan lahan, kebanyakan ada di sudut-sudut kebun, lereng-lereng bukit, atau tempat lainnya yang kurang diupayakan secara serius oleh petani. Namun demikian, keberadaan pohon kesemek selalu dituju para petani untuk melihat pertanda datangnya musim, tanpa harus menunggu kabar dari badan meteorologi.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tunas Harapan Desa Barusuda, Dias Sudiana, senada dengan kades A. Parid P., menyebutkan, parameter yang digunakan para petani untuk melihat datangnya musim hujan atau musim kemarau, adalah dari pertumbuhan pucuk daun tanaman pohonkesemek.
Daun pohon kesemek diketahui sensitif terhadap musim, suhu udara, dan rintik hujan, di mana menjelang musim kemarau pertumbuhan pucuk langsung tak tumbuh lagi sedangkan gelagat menjelang hujan cepat tumbuh subur.
"Cara tradisional tersebut selama ini cukup ampuh, karena keakuratannya mencapai 95 persen. Herannya, kalau mengandalkan kabar badan meteorologi dengan alat-alat modernnya itu pun mesti kami mencari-cari, pengalaman kami tak jarang malah meleset dari perkiraan," ujar Dias.
Soal nilai ekonomis buah kesemek sendiri, umumnya kini sudah tak diharapkan lagi oleh para petani. Karena itu, petani banyak yang menebang dan hanya menyisakan sedikit, untuk paramater musim hujan dan musim kemarau.
Disebutkan Dias, dahulu saat musim panen, para bandar hanya menghargai panen buah kesemek secara pukul rata-rata per hektare Rp 1 juta. Namun, nilainya kian hari tak jelas, walau pun mereka mendengar buah kesemek termasuk cukup laku di pasaran.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesemek
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/02/0603.htm
No comments:
Post a Comment