Tuesday, 26 August 2008

Duka Derita Christine (1)

Sejak tetangga Filipina-ku selesai kuliahnya dan meneruskan post doc di Jerman, aku kehilangan tetangga. Sebetulnya ada 4 keluarga yang tinggal seapato denganku. Cuma 2 lainnya orang Jepang dan China. Mereka sepertinya sibuk jarang komunikasi. Mungkin kalau sama orang Filipina lebih gampang komunikasinya. Bisa pakai bahasa inggris. Walau bahasa inggrisku juga masih belepotan yang penting nyambung.

Makanya waktu penghuni apato setelahnya yang orang Zimbabwe mau mengajak istri dan anaknya, aku senang sekali. Bulan September tahun lalu keluarganya datang menyusul. Sebagai tetangga baru, aku mencoba mengajak berkenalan. Aku bawakan buah-buahan dan coklat untuk anak-anaknya. Aku hanya ketemu dengan istrinya. Christine namanya. Ternyata Christine datang sendiri. Anak-anaknya ditinggal di Zimbabwe.

Kebetulan saat itu Ito ulang tahun, kami undang dia makan kue ultah bersama. Lumayan banyak yang kami obrolkan. Tentang anak-anak, negara, perjalanannya dari Zimbabwe ke Jepang dan tentu saja tentang dirinya.

2 hari setelah tiba di Sendai Christine dan suaminya mengurus surat di imigrasi. Sepulangnya dari kantor imigrasi mereka duduk-duduk didepan stasiun Senda. Tiba-tiba datang seorang bule sedang hamil setengah baya. Perempuan itu berbicara dalam bahasa Jepang dengan suaminya. Makin lama intonasinya makin tinggi. Christine yang saat itu belum ngerti bahasa Jepang hanya bengong. Wanita itu kemudian bertanya dalam bahasa inggris kepada Christine, apa dia Christine. Christine bilang, iya.

Kemudian perempuan itu membentak-bentak Christine. Ternyata perempuan itu adalah selingkuhan suaminya. Dan dia mengandung anak suaminya. Christine begitu shock dan seperti tidak percaya. Baru beberapa hari datang sudah harus menghadapai kenyataan pahit.

Bersambung.

No comments: