Tuesday, 26 August 2008

Ijime (bullying)

Lihat berita TV beberapa hari ini, seru membahas tentang ijime( inggrisnya bullying, kalau Indonesianya kayaknya diplonco??). Karena bahasa Jepangku masih cotto sukoshi alias pas-pasan nangkepnya juga pas-pasan. Sekarang ini sedang merebak meng-ijime dengan menggunakan internet (netto ijime), dengan mengirim email/blackmail
Ijime sempat merebak tahun 1980-an, dilakukan oleh anak-anak SD dan SMP. Kasusnya terjadi hampir diseluruh Jepang dari ujung selatan Fukuoka sampai utara Hokkaido. Ijime di Jepang lebih merupakan tindakan menyakiti secara psikis. Mengejek, mengolok-olok dan mengasingkan dari kelompok. Anak yang terkena ijime akan menjadi malas kesekolah, pemurung, tidak mau makan dan beraktivitas dan bisa berakhir dengan bunuh diri.

Kementrian pendidikan Jepang sampai turun tangan mengeluarkan seruan sekaligus permohonan untuk anak-anak sebagai masa depan Jepang dan untuk guru, orang tua dan masyarakat untuk menghentikan dan membantu pemecahan ijime ini.

Untuk anak-anak yang di ijime diminta untuk terbuka dan tidak malu mengungkapkan perasaannya. Untuk guru dan orang tua diminta memperhatikan bila ada perubahan sekecil apapun dan mengajak anak mengobrol meski sebentar.

Tapi sebetulnya ijime ini juga tidak lepas dari budaya masayarakat Jepang yaitu kekuasaan sistem berjenjang, hubungan manusia yang lebih menekankan pada kekuatan, pengasingan sebagai suatu pembelajaran, sistem hidup teratur dan ketat, disiplin yang kadang melupakan aspek kemanusiaan dan sistem sosial grup yang dijunjung tinggi. So..sepertinya budaya ijime ini tidak akan pernah hilang karena secara tidak sadar ternyata bagian dari budaya masyarakat.

Waktu Ito masuk SD, sempat khawatir juga dia akan mendapat ijime dari teman-teman Jepangnya. Bapaknya wanti-wanti kalau sampai ada teman yang meng-ijime dia, segera cerita ke bapak, ibu atau senseinya. Sebagai orang asing dan minoritas di SD-nya, tidak menutup kemungkinan ito mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan.

Alhamdulillah, sampai saat ini ito baik-baik saja. Bisa beradaptasi dan diterima dengan baik oleh teman-temannya. Karena sebagian besar teman SD-nya juga teman TK-nya

No comments: