Monday, 25 August 2008

Semoga Tidak Ada Air Mata Lagi

Tahun ini untuk keduakalinya kami sekeluarga akan menghadapi musim dingin (fuyu). Aku yang memang tidak tahan dengan udara dingin, sebetulnya tersiksa sekali harus berhadapan dengan dinginnya musim dingin. Sendai yang terletak dibagian utara Jepang memang lebih dingin dibanding daerah-daerah lain yang terletak di selatan Jepang. Tapi selain Sendai masih ada yang lebih utara lagi dan pasti lebih dingin, Sapporo misalnya.

Waktu tinggal di Semarang yang terkenal sebagai daerah panas saja kalau malam tiba aku masih pakai selimut. Sedangkan anak dan suami sudah pasti tanpa selimut tidak ketinggalan kaos oblong dan kipas anginnya. Apalagi kalau mau mudik ke Boyolali, walaupun aku dilahirkan di desa Seboto tepat dikaki gunung Merbabu yang lumayan dingin, tetap saja kalau pulang aku pasti kedinginan. Tiap mau mudik pasti aku sudah mempersiapkan jaket dan kaos kaki.

Sampai-sampai suamiku bilang aku "kemayu" karena aslinya dari gunung tapi tidak tahan udara dingin. Tidak tahu juga yaa...kenapa kok bisa berubah, sedangkan aku lahir dan besar didaerah dingin. Mungkin karena sempat merasakan panasnya kota Jakarta waktu kuliah kemungkinan sudah beradaptasi dengan udara panas.Teringat saat penempatan kerja di Bandung sempat merasa kedinginan juga, mana kosku dulu didaerah Ledeng yang dulu masih lumayan dingin.

Musim dingin tahun lalu seringkali aku menangis saat sudah tidak kuat dingin walaupun sudah memakai baju tebal 3 lapis dan berheater. Mungkin selain dingin juga masih terasa homesick karena baru 2 bulan aku meninggalkan tanah air. Selain itu aku sedang hamil muda sering mual dan muntah-muntah.

Saat itu aku masih tinggal di Kaikan (international house), kebetulan mendapat kamar yang terletak dipojok, terhalang bangunan lain sehingga sinar matahari kurang dan ada pohon cemara disamping kamar. Semakin lembab dan dingin aja kamarku. Beda dengan kamar kedua temanku yang datang bersamaan. Kamar mereka lebih hangat karena kebetulan banyak mendapat sinar matahari.

Bisa diibaratkan saat itu aku sampai berairmata darah karena seringnya aku menangis tidak tahan dingin. Suami sampai mempersilahkan seandainya aku tidak kuat dan ingin pulang. Tapi tidak tega rasanya meninggalkan suami berjuang sendiri. Dan juga aku mendapat kesempatan cuti diluar tanggungan negara dari instansiku. Dimana tidak semua orang bisa mendapatlan fasilitas itu. Kenikmatan yang harus aku syukuri dengan bertahan hidup dinegeri orang menemani suami dalam kondisi apapun, termasuk menghadapi kejamnya musim dingin.

Bersyukur selain suami yang selalu membesarkan hati bahwa aku kuat menghadapi musim dingin, teman-teman baik yang di Sendai maupun didunia maya selalu memberi semangat. Seringkali aku minta saran atau sekedar curhat untuk saling menguatkan. Diantara teman-teman terbaikku sekarang sudah kembali ke tanah air.

Berbekal pengalaman tahun lalu, mulai saat ini aku sudah mempersiapkan perlengkapan musim dingin untuk sekeluarga. Antara lain : kaos dalam dan celana ketat untuk musim dingin, sweater, training, jaket, kaos tangan, kaos kaki, syal, topi, selimut tebal, selimut listrik, sepatu salju, heater listrik dan minyak tanah heeemmm apa lagi yaa...? kalau ada yang nambahin douzo!

Bahkan untuk menambah agar ruangan tidak terlalu dingin suamiku sudah melapisi jendela kaca dengan plastik tule (apa yaa...namanya itu lho plastik yang untuk bungkus barang pecah belah). kebetulan mendapat sisa plastik punya teman dari Malaysia yang sudah mencoba dan katanya lumayan memberi efek hangat. Katanya nih pakai dengan tidak, bisa beda sampai 5 derajat celcius. Lumayan kan....!

Dan yang paling penting adalah mempersiapkan mental dan menjaga kesehatan. Banyak makan buah terutama jeruk yang melimpah di musim dingin, makan dan minum yang hangat, menjaga ruangan agar tetap hangat dan mengurangi aktivitas diluar ruangan yang kurang penting.

Semoga dengan persiapan yang lebih mantap tidak akan ada lagi air mata di fuyu kali ini. Pun seandainya ada tidak sederas tahun lalu , Amien!

No comments: