Alhamdulillah aku mulai merasakan hatiku hari demi hari semakin peka. Aku masih belajar agar hati ikut bergetar kala mendengar ayat-ayat suci dilantunkan. Saat melihat bencana menghancurkan kehidupan anak manusia. Saat melihat orang-orang lebih menderita dibandingkan aku. Saat berpisah dengan teman-teman tercinta. Saat kuterima kabar gembira atau sedih dari orang-orang yang menyayangiku.
Keras dan beratnya perjuangan hidupku, telah membuat hatiku menjadi keras dan beku bahkan cenderung egois. Sejak Bapak meninggal saat aku belum genap 3 tahun. Emak mengembara mencari nafkah. Kakak-kakakkupun dipisahkan denganku. dibesarkan oleh alam. Alam disini adalah orang-orang yang peduli dan lingkungan sekitarku.
Hidup tanpa sentuhan kasih sayang bapak dan emak membuat aku menjadi pribadi yang keras dan kurang peduli dengan lingkungan. Emak hanya perempuan desa lulusan Sekolah Rakyat, beliau hanya tahu mencari uang untuk biaya sekolah dan mendoakan kami dalam setiap sujudnya. Apa yang harus aku lakukan untuk mewujudkan cita-cita beliau menjadikan aku kelak menjadi orang yang “berhasil” dan tidak dilecehkan karena kemiskinan dan kebodohan
Alhamdulillah Allah senantiasa menolong hamba-hambaNya yang berjuang. Aku diberi kekuatan dan kemudahan mewujudkan cita-cita Emak. Walaupun untuk itu ada sisi dalam diriku yang aku abaikan. Yaitu hatiku……Ini baru aku sadari saat penutupan Ospek di Kampus dimana untuk yang muslim ada acara muhasabah. Semua teman-temanku menangis bahkan ada yang histeris waktu dibacakan kata-kata dan doa-doa. Ngapain pada menangis? Tanyaku dalam hati, atau hatiku yang telah membeku dan mengeras sehingga tidak tersentuh oleh kata-kata dan doa yang sebetulnya maknanya sangat dalam?
Barulah aku tersentak ada yang salah dalam diriku….demi berjuang hidup, ada ruang dalam hidupku yang tidak aku perjuangkan yaitu hatiku. Dan sejak saat itu sampai sekarang aku mulai belajar melembutkan kekerasan dan mencairkan kebekuan hatiku. Salah satunya dengan belajar menulis….Semoga!
No comments:
Post a Comment