Monday, 25 August 2008

Aa Gym Juga Manusia Biasa

Beberapa hari ini kita dikejutkan adanya berita bahwa Aa Gym menikah lagi alias memutuskan berpoligami. Banyak orang yang terkejut dan tidak percaya, berharap itu hanya isu. Dan saya termasuk salah satunya berharap bahwa itu hanya gosip. Dan berharap ada klarifikasi dari Aa Gym bahwa itu tidak benar.

Kenapa kita tidak rela Aa berpoligami? tapi kalau orang lain bahkan presiden kita seandainya berpoligami mungkin reaksi kita tidak akan sebesar saat mendengar Aa berpoligami. Karena kita memandang Aa sebagai figur yang sempurna dan ideal, panutan dalam beragama islam dan yang pasti kita merasa ikut memiliki Aa.

Ini karena di Indonesia semakin langka kita menemukan sosok yang bisa dijadikan panutan. Saat Aa tampil dan merebut simpati publik, kita berharap banyak pada sosok beliau. Kita ingin beliau tampil sebagai manusia sempurna sesuai ukuran kita. Diantaranya tidak berpoligami. Karena poligami adalah hal yang masih tabu dimasyarakat kita.

Masing-masing dari kita punya alasan sendiri-sendiri yang setuju maupun yang tidak dengan keputusan Aa berpoligami. Walaupun Aa sudah memberikan klarifikasi alasan-alasan beliau berpoligami, dalam hati kita selalu ada alasan untuk tidak membenarkannya. Diantaranya, kenapa kalau alasan beribadah carinya yang lebih muda, lebih cantik dari Teh Ninih.

Mungkin kalau yang dipilih Aa lebih jelek, lebih tua dari Teh Ninih kita akan lebih simpati. Kita punya prasangka bahwa selain alasan-alasan yang disebutkan Aa, beliau memutuskan memilih Rini karena nafsu juga. Dan hal ini yang tidak bisa kita terima.

Kita tidak akan pernah selesai membahas ini kalau kita masih memandang Aa sebagai manusia yang ideal. Mungkin akan lebih bijak dan enak buat kita, kalau kita berpikir bahwa selain Nabi Muhammad SAW, ulama sekaliber apapun dia adalah manusia biasa termasuk Aa Gym. Artinya walaupun niatnya berpoligami ingin menjalankan perintah Al Quran, sebagai manusia biasa tetap tidak bisa terlepas dari nafsu ingin mempunyai istri yang cantik.

Bisa dianalogkan seperti kalau kita akan sholat pasti lebih senang kalau kita sholat ditempat yang bersih, nyaman dan hangat. Juga untuk ibadah-ibadah lain, cenderung kita memilih yang enak.

1 comment:

Anonymous said...

kenapa seandainya bisa memilih harus memilih yang lebih tua dan lebih tidak cantik?