Karena hubungan suami Christine dengan sensei sudah memburuk, dia ingin mengakhiri studinya. Batas akhir studinya adalah Oktober 2009. Mungkin dia juga mulai pusing dengan masalah yang dia buat sendiri. Tapi senseinya masih berusaha mempertahankan sampai selesai. Karena sebagai penerima monbusho kalau sampai putus ditengah jalan akan mengurangi kondiute sensei.
Sensei memberi usul agar Christine pulang dan kembali ke Jepang dengan membawa anak-anaknya. Sensei berharap dengan bersatu keluarga mereka akan menghilangkan sifat playboy suami Christine. Tapi Christine sudah trauma dengan kelakuan suaminya. Dia tidak mau bertaruh dengan membawa anak-anaknya. Bagaimana kalau ada anak-anaknya, tanpa uang, makanan, listrik, air dan gas? Kehidupan di Zimbabwe memang sulit tapi setidaknya dia bisa lebih tenang dinegerinya sendiri.
Apalagi Christine melihat teman-teman suaminya sesama dari Afrika yang sekolah di Sendai ada beberapa juga yang melakukan hal yang sama dengan suaminya. Ada temennya dari Kongo (kebetulan istrinya temanku les bahasa Jepang) yang bawa keluarga tetap saja selingkuh. Malah ada orang dari Zambia yang istrinya menyusul kemudian hamil masih selingkuh. Sampai kemudian ibu si perempuan mengirim uang untuk beli tiket pulang ke Zambia. Saat istrinya pulang ke Zambia kelakuan suaminya malah semakin bebas main perempuan. Berkaca dari pengalaman teman-temannya, Christine tidak mau ambil resiko dengan membawa anak-anaknya ke Jepang.
Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti Christine. Setelah bekerja keras mengumpulkan uang dia bisa membeli tiket dan masih ada sisa untuk biaya sementara hidup di Zimbabwe. Suasana politik di Zimbabwe sedang tidak kondusif. Ada tawaran mengajar di Universitas Pretoria Afrika Selatan. Christine sedang mempertimbangkan tawaran itu.
Dia sudah tidak peduli dengan suaminya, terserah saja sekembalinya dia ke Zimbabwe suaminya mau tinggal bersama dengan siapa. Bahkan setelah selesai sekolahsuaminya mau kembali ke dia dan anak-anak atau tidak. Dia akan berkonsentrasi membesarkan anak-anaknya.
Tadi malam adalah malam terakhir Christine di Sendai. Dengan doa aku lepas Christine. Semoga perjalanannya lancar dan selamat bertemu anak-anak dan keluarganya. Tidak lupa aku berpesan kalau sudah sampai kirim kabar
Tuesday, 26 August 2008
Duka Derita Christine (4)
Ternyata tidak hanya sekali dua kali suami Christine selingkuh. Sering Christine mengangkat hp suaminya saat hp berdering dan suaminya sedang dikamar mandi. Ternyata yang menelepon cewek, itu terjadi beberapa kali. Tentu saja suaminya marah, kenapa Christine mengangkat hpnya. Tapi Christine tidak peduli. Dia ingin tahu bagaimana kelakuan suaminya selama ini.
Tentu saja cewek-cewek itu kaget saat yang menerima telpon Christine. Selama ini mereka tahunya suami Christine masih bujangi. Itu juga yang terjadi dengan selingkuhan bulenya kenapa sampai hamil. Suami Christine tidak pernah bilang kalau sudah berkeluarga. Hal itu aku tahu dari pertengkaran mereka dikamar Christine. Saat Christine belum datang. Karena kerasnya pertengkaran mereka, aku dan suamiku bisa tahu apa yang mereka pertengkarkan.
Pernah suatu ketika Christine memergokinya langsung perselingkuhan suaminya. Saat itu Christine pulang mengajar bahasa Inggris di Sendai Language School. Pulangnya jalan kaki kearah Ichibanchou. Tidak sengaja melihat suaminya bersama seorang wanita didalam sebuah mobil. Dia coba ikuti mobil yang sedang mencari tempat parkir itu. Keluar dari mobil, suaminya belum sadar diikuti. Ternyata wanita yang bersama suaminya sudah tua. Bisa dibilang nenek-nenek. Bisa dilihat dari penampilan fisiknya. Mereka menuju sebuah apartemen lantai dua didaerah kokubuncho (daerah lokalisasi di Sendai). Setelah perempuan itu masuk apartemen Christine langsung menghadang suaminya yang akan masuk juga.
Betapa kaget suaminya! melihat Christine tiba-tiba ada ditempat tersebut. Perempuan Jepang yang sudah masuk apartemen memanggil - manggil suaminya dengan panggilan "darling darling"! Karena tidak ada jawaban perempuan itu keluar. Alangkah kagetnya ada Christine disitu. Perempuan itu bertanya, siapa anda? Dijawab Christine dia istri dari laki-laki itu. Tambah kaget perempuan itu. Dijelaskan juga mereka sudah mempunyai 2 orang anak. Terlihat perempuan itu gemetar, mulutnya ternganga tidak menyangka bahwa laki-laki yang bersamanya sudah punya anak istri. Tidak tahu karena malu atau shock, perempuan itu berlari sekencang-kencangnya menjauhi Christine dan suaminya.
Christine segera berlalu dan tidak mempedulikan suaminya. Sepertinya sudah beku hati Christine. Tidak ada lagi rasa marah. Dia malah geli ingat apa yang terjadi. Selama ini Christine masih mengira kalau suaminya pulang pagi atau tidak pulang sibuk dilab. Tapi setelah kejadian itu Christine berkesimpulan ternyata suaminya sibuk di kokubuncho.
Christine juga mendengar dari sensei suaminya, bahwa perempuan bule selingkuhan suaminya mendatangi kantor senseinya. Perempuan itu mengadu suami Christine lama tidak memberi uang kepadanya. Senseinya bilang bahwa dia tahunya istrinya Christine bukan perempuan itu. Kalau mau minta uang datangi saja laki-laki itu. Kenapa datang padanya? Sensei juga bilang tidak mau peduli atas apa yang terjadi dan tidak mau terlibat.
Karena tidak mendapat respon yang menyenangkan perempuan itu keluar ruangan sambil membanting pintu. Setelah kejadian itu sensei suami Christine cerita bahwa dia sudah pusing dengan tingkah laku suaminya. Christine tidak bisa komentar apa-apa. Karena dia juga sudah tidak peduli dengan suaminya. Yang ada dibenak Christine adalah bekerja sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan uang untuk ongkos pulang. Ternyata Christine tidak hanya mengajar di Shokai University. Dia juga mengajar di Sendai Language School dan beberapa kelas privat. Suaminya hanya tahu Christine mengajar di Shokai, yang lainnya tidak tahu.
Tentu saja cewek-cewek itu kaget saat yang menerima telpon Christine. Selama ini mereka tahunya suami Christine masih bujangi. Itu juga yang terjadi dengan selingkuhan bulenya kenapa sampai hamil. Suami Christine tidak pernah bilang kalau sudah berkeluarga. Hal itu aku tahu dari pertengkaran mereka dikamar Christine. Saat Christine belum datang. Karena kerasnya pertengkaran mereka, aku dan suamiku bisa tahu apa yang mereka pertengkarkan.
Pernah suatu ketika Christine memergokinya langsung perselingkuhan suaminya. Saat itu Christine pulang mengajar bahasa Inggris di Sendai Language School. Pulangnya jalan kaki kearah Ichibanchou. Tidak sengaja melihat suaminya bersama seorang wanita didalam sebuah mobil. Dia coba ikuti mobil yang sedang mencari tempat parkir itu. Keluar dari mobil, suaminya belum sadar diikuti. Ternyata wanita yang bersama suaminya sudah tua. Bisa dibilang nenek-nenek. Bisa dilihat dari penampilan fisiknya. Mereka menuju sebuah apartemen lantai dua didaerah kokubuncho (daerah lokalisasi di Sendai). Setelah perempuan itu masuk apartemen Christine langsung menghadang suaminya yang akan masuk juga.
Betapa kaget suaminya! melihat Christine tiba-tiba ada ditempat tersebut. Perempuan Jepang yang sudah masuk apartemen memanggil - manggil suaminya dengan panggilan "darling darling"! Karena tidak ada jawaban perempuan itu keluar. Alangkah kagetnya ada Christine disitu. Perempuan itu bertanya, siapa anda? Dijawab Christine dia istri dari laki-laki itu. Tambah kaget perempuan itu. Dijelaskan juga mereka sudah mempunyai 2 orang anak. Terlihat perempuan itu gemetar, mulutnya ternganga tidak menyangka bahwa laki-laki yang bersamanya sudah punya anak istri. Tidak tahu karena malu atau shock, perempuan itu berlari sekencang-kencangnya menjauhi Christine dan suaminya.
Christine segera berlalu dan tidak mempedulikan suaminya. Sepertinya sudah beku hati Christine. Tidak ada lagi rasa marah. Dia malah geli ingat apa yang terjadi. Selama ini Christine masih mengira kalau suaminya pulang pagi atau tidak pulang sibuk dilab. Tapi setelah kejadian itu Christine berkesimpulan ternyata suaminya sibuk di kokubuncho.
Christine juga mendengar dari sensei suaminya, bahwa perempuan bule selingkuhan suaminya mendatangi kantor senseinya. Perempuan itu mengadu suami Christine lama tidak memberi uang kepadanya. Senseinya bilang bahwa dia tahunya istrinya Christine bukan perempuan itu. Kalau mau minta uang datangi saja laki-laki itu. Kenapa datang padanya? Sensei juga bilang tidak mau peduli atas apa yang terjadi dan tidak mau terlibat.
Karena tidak mendapat respon yang menyenangkan perempuan itu keluar ruangan sambil membanting pintu. Setelah kejadian itu sensei suami Christine cerita bahwa dia sudah pusing dengan tingkah laku suaminya. Christine tidak bisa komentar apa-apa. Karena dia juga sudah tidak peduli dengan suaminya. Yang ada dibenak Christine adalah bekerja sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan uang untuk ongkos pulang. Ternyata Christine tidak hanya mengajar di Shokai University. Dia juga mengajar di Sendai Language School dan beberapa kelas privat. Suaminya hanya tahu Christine mengajar di Shokai, yang lainnya tidak tahu.
Duka Derita Christine (3)
Setelah sensei suami Christine tahu apa yang terjadi, timbul simpatinya kepada Christine. Diajaknya Christine bertemu untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Akhirnya keluarlah semua cerita tentang suaminya. Bagaimana selama ini suaminya memperlakukan anak-anak dan dirinya. Terutama bahwa suaminya tidak pernah mengirimkan uang ke Zimbabwe. Bahkan ternyata selama Christine di Jepang suaminya jarang memberi uang untuk membeli makanan. Kalaupun memberi sangatlah minim.
Terus aku tanya bagaimana dia membeli makan? Christine bilang, sensei suaminya yang memberi uang untuk makan. Sensei suaminya juga berpesan agar kalau ada masalah menghubunginya. Sejak tahu hal itu, kalau aku membuat masakan yang kira-kira Christine bisa menyantapnya, aku kirim masakanku.
Pantas saja selama 5 bulan berat badan Christine turun drastis, 14kg!!! Waktu datang aku julukin dia big mama, sekarang jadi langsing banget. Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Sinar mata Christine yang kian meredup membuatku khawatir. Aku hanya berharap Christine bertahan sampai waktunya datang untuk pulang ke Zimbabwe.
Ya sejak mengetahui tingkah suaminya Christine sudah tidak tahan untuk lama-lama di Jepang. Ditambah kerinduan pada anak-anaknya membuat ingin secepatnya pulang. Awalnya dia masih berharap suaminya mau berubah dan meninggalkan wanita itu. Christine bilang masih cinta pada suaminya. Tapi melihat perkembangan tingkah suaminya yang tidak membaik dan bagaimana wanita itu sering datang kerumah dan suaminya tidak membela malah memarahi bahkan memukulnya, akhirnya Christine menyerah.
Tapi untuk bisa pulang tidaklah mudah. Untuk datang kesini saja Christine harus berutang dari bank. sedangkan tiket pesawat Jepang-Zimbabwe tidaklah murah. Akhirnya Christine mempunyai ide untuk mencari pekerjaan. Sesuai dengan pekerjaannya dulu di Zimbabwe sebagai guru bahasa Inggris, berkat ketekunannya mencari info diinternet Christine berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di Shokai University. Sebuah universitas diluar kota Sendai. Christine berusaha menabung untuk biaya pulang, syukur-syukur ada sisa untuk biaya hidupnya nanti di Zimbabwe.
Suaminya semakin jarang pulang, tapi Christine tidak peduli. Kadang masih suka pulang, karena masih suka aku dengar pertengkaran dari kamar mereka. Pernah beberapa kali petugas air, gas dan listrik datang memberitahukan akan memutus alirannya. Karena beberapa bulan tidak dibayar. Christine bertanya kenapa tidk dibayar? suaminya bilang tidak ada uang. Yaa..mungkin uangnya diminta oleh selingkuhannya. Mana sekarang anaknya sudah semakin besar. Yaa..anak hasil selingkuhan suaminya telah lahir sebulan setelah Christine datang.
Apalagi setelah suaminya tahu Christine kerja, dia minta Christine yang membayar tagihan air, listrik dan gas. Tentu saja Christine tidak mau. Setelah beberapa kali akan diputus, akhirrnya listrik dan air benar-benar diputus bulan ini. Waktu pulang dari mengajar Christine akan mencuci piring. ternyata airnya tidak mengalir. Akhirnya dia datang kerumahku meminta air, sekalian numpang mandi. Begitu juga dengan listriknya, untuk beberapa hari Christine harus bertahan dengan sinar lilin pemberianku.
Sebetulnya aku ingin mengajak Christine tidur dirumahku. Cuma ito dan Lula kayaknya masih agak sungkan kalau ada Christine dirumah. Lula yang biasanya cerewet jadi diem aja. Mungkin karena kulit hitam Christine yang membuat Lula agak takut. Sedangkan Christine sangat ingin bisa dekat dengan anak-anak. Untuk mengobati kerinduan akan anak-anaknya. Sampai-sampai dia ingin dipanggil mama Christine.
Bersambung.
Terus aku tanya bagaimana dia membeli makan? Christine bilang, sensei suaminya yang memberi uang untuk makan. Sensei suaminya juga berpesan agar kalau ada masalah menghubunginya. Sejak tahu hal itu, kalau aku membuat masakan yang kira-kira Christine bisa menyantapnya, aku kirim masakanku.
Pantas saja selama 5 bulan berat badan Christine turun drastis, 14kg!!! Waktu datang aku julukin dia big mama, sekarang jadi langsing banget. Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Sinar mata Christine yang kian meredup membuatku khawatir. Aku hanya berharap Christine bertahan sampai waktunya datang untuk pulang ke Zimbabwe.
Ya sejak mengetahui tingkah suaminya Christine sudah tidak tahan untuk lama-lama di Jepang. Ditambah kerinduan pada anak-anaknya membuat ingin secepatnya pulang. Awalnya dia masih berharap suaminya mau berubah dan meninggalkan wanita itu. Christine bilang masih cinta pada suaminya. Tapi melihat perkembangan tingkah suaminya yang tidak membaik dan bagaimana wanita itu sering datang kerumah dan suaminya tidak membela malah memarahi bahkan memukulnya, akhirnya Christine menyerah.
Tapi untuk bisa pulang tidaklah mudah. Untuk datang kesini saja Christine harus berutang dari bank. sedangkan tiket pesawat Jepang-Zimbabwe tidaklah murah. Akhirnya Christine mempunyai ide untuk mencari pekerjaan. Sesuai dengan pekerjaannya dulu di Zimbabwe sebagai guru bahasa Inggris, berkat ketekunannya mencari info diinternet Christine berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di Shokai University. Sebuah universitas diluar kota Sendai. Christine berusaha menabung untuk biaya pulang, syukur-syukur ada sisa untuk biaya hidupnya nanti di Zimbabwe.
Suaminya semakin jarang pulang, tapi Christine tidak peduli. Kadang masih suka pulang, karena masih suka aku dengar pertengkaran dari kamar mereka. Pernah beberapa kali petugas air, gas dan listrik datang memberitahukan akan memutus alirannya. Karena beberapa bulan tidak dibayar. Christine bertanya kenapa tidk dibayar? suaminya bilang tidak ada uang. Yaa..mungkin uangnya diminta oleh selingkuhannya. Mana sekarang anaknya sudah semakin besar. Yaa..anak hasil selingkuhan suaminya telah lahir sebulan setelah Christine datang.
Apalagi setelah suaminya tahu Christine kerja, dia minta Christine yang membayar tagihan air, listrik dan gas. Tentu saja Christine tidak mau. Setelah beberapa kali akan diputus, akhirrnya listrik dan air benar-benar diputus bulan ini. Waktu pulang dari mengajar Christine akan mencuci piring. ternyata airnya tidak mengalir. Akhirnya dia datang kerumahku meminta air, sekalian numpang mandi. Begitu juga dengan listriknya, untuk beberapa hari Christine harus bertahan dengan sinar lilin pemberianku.
Sebetulnya aku ingin mengajak Christine tidur dirumahku. Cuma ito dan Lula kayaknya masih agak sungkan kalau ada Christine dirumah. Lula yang biasanya cerewet jadi diem aja. Mungkin karena kulit hitam Christine yang membuat Lula agak takut. Sedangkan Christine sangat ingin bisa dekat dengan anak-anak. Untuk mengobati kerinduan akan anak-anaknya. Sampai-sampai dia ingin dipanggil mama Christine.
Bersambung.
Duka Derita Christine (2)
Itulah yang diceritakan kepadaku setelah beberapa hari aku ketemu dengannya. Tentu aku juga sangat terkejut mendengarnya. Kebetulan suaminya tetangga lab dengan suamiku. Mereka sering ketemu dan ngobrol tentang riset. Saat aku ceritakan hal ini pada suamiku, ternyata suamiku sudah menduganya. Suamikupun tahu dengan selingkuhan suaminya. Dia orang Australia guru bahasa inggris di departemen material, departemen suamiku dan suami Christine.
Yang Christine tidak habis pikir, kok selingkuhannya itu sudah setengah baya. Sudah berumur 50-an. Sedangkan Christine dan suaminya masih berumur 30-an. Suamiku pikir karena mereka saling membutuhkan. Suami Christine kesepian dan si bule juga begitu. Karena diumurnya yang ke-50 belum menikah.
Aku hanya bisa memeluk saaat Christine bercerita sambil berurai airmata. Akhirnya keluar cerita lainnya. Ternyata selama ini suaminya tidak pernah mengirim uang buat dia dan anak-anak. Kalau ditanya selalu bilang uangnya habis. Untunglah Christine di Zimbabwe bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Tapi kehidupan di Zimbabwe sangatlah sulit. Pernah anak keduanya sakit serius dan perlu operasi. Dan suaminya sama sekali tidak peduli.
Terpaksa Christine mencari hutangan. Begitulah selama ini sejak ke Jepang belum pernah sepeser uang atau selembar baju dikirimkan untuk anak-anaknya. Telpon juga semakin jarang. Sampai akhirnya Christine bertekad menyusul suaminya. Ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Sebenarnya dia ingin mengajak anak-anaknya. Tapi harga tiketnya sangatlah mahal. Untuk beli tiket aja dia pinjam ke bank. Perjalanannya juga sangat panjang. 20 jam dan transit beberapa kali.
Anak-anak dia titipkan kepada ibunya. Christine menyusul sendirian. Tapi mungkin itu yang terbaik, karena ternyata sungguh pahit apa yang akan dia alami setelahnya. Sejak itu pertengkaran-pertengkaran sering aku dengar dari kamarnya. Untuk mengalihkan penderitaan dan kesepiannya, sering aku ajak dia ke acara-acara dengan orang Jepang. Selain itu dia mengambil kursus bahasa Jepang.
Ternyata suaminya sangat kasar dan ringan tangan. Saat itu musim dingin mulai datang. Sering kalau ada pertengkaran Christine dipukul dan diusir dari rumah. Tidak peduli sedang tengah malam atau pagi buta. Christine yang tidak tahu harus kemana, sungkan mengetuk pintu rumahku. Tanpa sepatu dan hanya berbaju tidur, dengan berlinang air mata, dia berjalan.
Terseok-seok langkahnya, terduduk dia didepan sunmari. Supermarket dekat rumah. Salju rintik-rintik turun. Dingin menggigit. Tiba-tiba datang polisi mendekat. Menanyakan identitas dan apa yang terjadi. Akhirnya diantarkannya Christine pulang. Aku berpesan, kalau suami mengusirnya untuk mengetuk pintu rumahku. Tapi sepertinya dia tidak mau melibatkan aku dan suamiku. Cukup aku menjadi pendengar cerita, katanya.
Itu tidak terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali. Sampai akhirnya dipuncak kesedihan karena didorong dan diusir dari rumah, dia menelepon teman Jepangnya. Teman yang dia kenal disuatu acara internasional. Akhirnya dia dijemput temannya untuk menginap dirumahnya. Kebetulan bapak temannya kenal dengan sensei suaminya.
Akhirnya bapak temannya cerita apa yang terjadi kepada sensei suaminya. Marah sekali sensei suaminya saat tahu apa yang terjadi. Suami Christine dipanggil dan dimarahi. Kenapa kalau cuma mau disiksa, istrinya dibawa ke Jepang? Tapi bukannya sadar, suami Christine tambah murka pada Christine kenapa senseinya sampai tahu apa yang terjadi.
Bersambung
Yang Christine tidak habis pikir, kok selingkuhannya itu sudah setengah baya. Sudah berumur 50-an. Sedangkan Christine dan suaminya masih berumur 30-an. Suamiku pikir karena mereka saling membutuhkan. Suami Christine kesepian dan si bule juga begitu. Karena diumurnya yang ke-50 belum menikah.
Aku hanya bisa memeluk saaat Christine bercerita sambil berurai airmata. Akhirnya keluar cerita lainnya. Ternyata selama ini suaminya tidak pernah mengirim uang buat dia dan anak-anak. Kalau ditanya selalu bilang uangnya habis. Untunglah Christine di Zimbabwe bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Tapi kehidupan di Zimbabwe sangatlah sulit. Pernah anak keduanya sakit serius dan perlu operasi. Dan suaminya sama sekali tidak peduli.
Terpaksa Christine mencari hutangan. Begitulah selama ini sejak ke Jepang belum pernah sepeser uang atau selembar baju dikirimkan untuk anak-anaknya. Telpon juga semakin jarang. Sampai akhirnya Christine bertekad menyusul suaminya. Ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Sebenarnya dia ingin mengajak anak-anaknya. Tapi harga tiketnya sangatlah mahal. Untuk beli tiket aja dia pinjam ke bank. Perjalanannya juga sangat panjang. 20 jam dan transit beberapa kali.
Anak-anak dia titipkan kepada ibunya. Christine menyusul sendirian. Tapi mungkin itu yang terbaik, karena ternyata sungguh pahit apa yang akan dia alami setelahnya. Sejak itu pertengkaran-pertengkaran sering aku dengar dari kamarnya. Untuk mengalihkan penderitaan dan kesepiannya, sering aku ajak dia ke acara-acara dengan orang Jepang. Selain itu dia mengambil kursus bahasa Jepang.
Ternyata suaminya sangat kasar dan ringan tangan. Saat itu musim dingin mulai datang. Sering kalau ada pertengkaran Christine dipukul dan diusir dari rumah. Tidak peduli sedang tengah malam atau pagi buta. Christine yang tidak tahu harus kemana, sungkan mengetuk pintu rumahku. Tanpa sepatu dan hanya berbaju tidur, dengan berlinang air mata, dia berjalan.
Terseok-seok langkahnya, terduduk dia didepan sunmari. Supermarket dekat rumah. Salju rintik-rintik turun. Dingin menggigit. Tiba-tiba datang polisi mendekat. Menanyakan identitas dan apa yang terjadi. Akhirnya diantarkannya Christine pulang. Aku berpesan, kalau suami mengusirnya untuk mengetuk pintu rumahku. Tapi sepertinya dia tidak mau melibatkan aku dan suamiku. Cukup aku menjadi pendengar cerita, katanya.
Itu tidak terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali. Sampai akhirnya dipuncak kesedihan karena didorong dan diusir dari rumah, dia menelepon teman Jepangnya. Teman yang dia kenal disuatu acara internasional. Akhirnya dia dijemput temannya untuk menginap dirumahnya. Kebetulan bapak temannya kenal dengan sensei suaminya.
Akhirnya bapak temannya cerita apa yang terjadi kepada sensei suaminya. Marah sekali sensei suaminya saat tahu apa yang terjadi. Suami Christine dipanggil dan dimarahi. Kenapa kalau cuma mau disiksa, istrinya dibawa ke Jepang? Tapi bukannya sadar, suami Christine tambah murka pada Christine kenapa senseinya sampai tahu apa yang terjadi.
Bersambung
Duka Derita Christine (1)
Sejak tetangga Filipina-ku selesai kuliahnya dan meneruskan post doc di Jerman, aku kehilangan tetangga. Sebetulnya ada 4 keluarga yang tinggal seapato denganku. Cuma 2 lainnya orang Jepang dan China. Mereka sepertinya sibuk jarang komunikasi. Mungkin kalau sama orang Filipina lebih gampang komunikasinya. Bisa pakai bahasa inggris. Walau bahasa inggrisku juga masih belepotan yang penting nyambung.
Makanya waktu penghuni apato setelahnya yang orang Zimbabwe mau mengajak istri dan anaknya, aku senang sekali. Bulan September tahun lalu keluarganya datang menyusul. Sebagai tetangga baru, aku mencoba mengajak berkenalan. Aku bawakan buah-buahan dan coklat untuk anak-anaknya. Aku hanya ketemu dengan istrinya. Christine namanya. Ternyata Christine datang sendiri. Anak-anaknya ditinggal di Zimbabwe.
Kebetulan saat itu Ito ulang tahun, kami undang dia makan kue ultah bersama. Lumayan banyak yang kami obrolkan. Tentang anak-anak, negara, perjalanannya dari Zimbabwe ke Jepang dan tentu saja tentang dirinya.
2 hari setelah tiba di Sendai Christine dan suaminya mengurus surat di imigrasi. Sepulangnya dari kantor imigrasi mereka duduk-duduk didepan stasiun Senda. Tiba-tiba datang seorang bule sedang hamil setengah baya. Perempuan itu berbicara dalam bahasa Jepang dengan suaminya. Makin lama intonasinya makin tinggi. Christine yang saat itu belum ngerti bahasa Jepang hanya bengong. Wanita itu kemudian bertanya dalam bahasa inggris kepada Christine, apa dia Christine. Christine bilang, iya.
Kemudian perempuan itu membentak-bentak Christine. Ternyata perempuan itu adalah selingkuhan suaminya. Dan dia mengandung anak suaminya. Christine begitu shock dan seperti tidak percaya. Baru beberapa hari datang sudah harus menghadapai kenyataan pahit.
Bersambung.
Makanya waktu penghuni apato setelahnya yang orang Zimbabwe mau mengajak istri dan anaknya, aku senang sekali. Bulan September tahun lalu keluarganya datang menyusul. Sebagai tetangga baru, aku mencoba mengajak berkenalan. Aku bawakan buah-buahan dan coklat untuk anak-anaknya. Aku hanya ketemu dengan istrinya. Christine namanya. Ternyata Christine datang sendiri. Anak-anaknya ditinggal di Zimbabwe.
Kebetulan saat itu Ito ulang tahun, kami undang dia makan kue ultah bersama. Lumayan banyak yang kami obrolkan. Tentang anak-anak, negara, perjalanannya dari Zimbabwe ke Jepang dan tentu saja tentang dirinya.
2 hari setelah tiba di Sendai Christine dan suaminya mengurus surat di imigrasi. Sepulangnya dari kantor imigrasi mereka duduk-duduk didepan stasiun Senda. Tiba-tiba datang seorang bule sedang hamil setengah baya. Perempuan itu berbicara dalam bahasa Jepang dengan suaminya. Makin lama intonasinya makin tinggi. Christine yang saat itu belum ngerti bahasa Jepang hanya bengong. Wanita itu kemudian bertanya dalam bahasa inggris kepada Christine, apa dia Christine. Christine bilang, iya.
Kemudian perempuan itu membentak-bentak Christine. Ternyata perempuan itu adalah selingkuhan suaminya. Dan dia mengandung anak suaminya. Christine begitu shock dan seperti tidak percaya. Baru beberapa hari datang sudah harus menghadapai kenyataan pahit.
Bersambung.
2 Tahun Inara Lula Zaida
Sabtu, 12 Juli 2008 ulang tahun Lula yang kedua. Tidak ada pesta ulang tahun, hanya syukuran sekeluarga. Sebagai tanda syukur kami sebagai orangtua, dikarunia putri yang cantik, sehat, lucu dan pintar.
Anak adalah buah hati, dambaan orang tua serta sebagai penyejuk hati. Anak tidak lahir begitu saja, anak terlahir dari buah cinta sepasang hamba Allah. Anak merupakan amanat yang wajib untuk dijaga, diasuh dan dirawat dengan baik oleh orangtua. Setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia ataupun di akherat. Sungguh suatu hal yang tidak ringan.
Di ulang tahun Lula yang kedua kami panjatkan doa :
“Ya Allah, hamba akan selalu berusaha mendidik dan mengarahkan anak-anak hamba kepada kebaikan, namun Engkaulah Dzat yang maha menguasai hati manusia. Naungilah hati anak hamba dengan kejernihan kasih-Mu, hiasilah hati anak hamba dengan kelembutan cinta-Mu. Patrikanlah dalam qalbu anak hamba semangat untuk selalu menaati agama-Mu. Jadikanlah anak-anak kami menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Berikanlah kekuatan dan kesabaran kepada kami untuk mendidik mereka. Hanya kepada-Mu-lah kami berserah diri"
Anak adalah buah hati, dambaan orang tua serta sebagai penyejuk hati. Anak tidak lahir begitu saja, anak terlahir dari buah cinta sepasang hamba Allah. Anak merupakan amanat yang wajib untuk dijaga, diasuh dan dirawat dengan baik oleh orangtua. Setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia ataupun di akherat. Sungguh suatu hal yang tidak ringan.
Di ulang tahun Lula yang kedua kami panjatkan doa :
“Ya Allah, hamba akan selalu berusaha mendidik dan mengarahkan anak-anak hamba kepada kebaikan, namun Engkaulah Dzat yang maha menguasai hati manusia. Naungilah hati anak hamba dengan kejernihan kasih-Mu, hiasilah hati anak hamba dengan kelembutan cinta-Mu. Patrikanlah dalam qalbu anak hamba semangat untuk selalu menaati agama-Mu. Jadikanlah anak-anak kami menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Berikanlah kekuatan dan kesabaran kepada kami untuk mendidik mereka. Hanya kepada-Mu-lah kami berserah diri"
Digoyang Gempa
Hari Jumat tanggal 5 Juni waktu les bahasa, sensei mengingatkan akan adanya kemungkinan gempa didaerah Miyagi bulan Juni tahun ini. Mengingat ada siklus 30 tahunan gempa didaerah Miyagi.
Tgl 12 Juni, ada peringatan 30 tahun gempa besar didaerah Miyagi. Gempa tersebut terjadi pada tahun 1978. Di TV lokal ada acara khusus memperingati gempa sekaligus memberi peringatan kepada penduduk agar bersiap-siap seandainya gempa itu terjadi lagi. Gempa tersebut diramalkan terjadi dalam waktu dekat ini, diperhitungkan pusat gempanya sama dengan gempa yang 30 tahun lalu. Ada 3 spot dilaut yang patah pada waktu bersamaan 30 taun yang lalu itu.Jadi gempa 30 tahun yg lalu itu benar-benar dahsyat.
Tahun 2005 ada gempa lumayan hebat di Miyagi. Saat itu 1 dari 3 spot rawan tsb patah. Jadi perkiraan gempa yang bakal terjadi ini, bakal di sebabkan oleh sisa 2 spot rawan yang belum patah. Dan tidak ada yang tau kapan patahnya. Semoga saja tidak bersamaan patahnya, jadi gempanya tidak besar.
Sabtu 14 Juni 2008 jam 8.43 JST, saat kami sekeluarga sedang bersantai-santai menikmati hari libur, dikejutkan goyangan yang semakin lama semakin besar. Sebetulnya sudah biasa kita mengalami gempa, tapi tidak sebesar kali ini. Vas bunga diatas lemari terjatuh dan pecah. Apalagi kita dilantai dua, lebih terasa goyangannya. Walaupun sudah sering diberi peringatan apa saja yang harus dilakukan saat gempa, tetap saja kita panik saat itu. Mau sembunyi dikolong meja, tidak punya meja .
Setelah agak reda, kita buka pintu dan melihat keadaan sekeliling. Ternyata aman-aman saja. Kita nyalakan TV, ternyata dari berita diketahui bahwa gempa tadi 7.2 SR . Pantas saja keras banget goyangannya. Tapi hebat rumah Jepang, gempa segitu rumah tidak ambruk. Memang rumah di Jepang didesain tahan gempa sampai 7 SR.
Setelah itu beberapa helikopter seharian terlihat mengudara memeriksa kalo ada kerusakan. Jalur kereta langsung dihentikan. Mobil petugas JR (japanese railways) juga terlihat berpatroli. Gempa2 kecil susulan beberapa kali terjadi. Sempet khawatir terjadi gempa susulan. Jadi takut mau kemana-mana.
Tapi ternyata gempa kali ini masih bukan skenario dari Miyagi Oki Jishin ( bukan pake kanji "ookii besar" tapi kanji okinawa punya "oki" = sama dengan sumatera oki jishin) yang diramalkan terjadi dalam waktu dekat ini. Karena gempa kali ini pusat gempanya di Iwate (darat). Didekat pusat gempanya(Iwate) jatuh korban 6 orang meninggal, beberapa rumah roboh, jembatan putus, bukit longsor dll. Alhamdulillah didaerah Miyagi (tempatku) tidak ada korban jiwa.
Waahh..masih khawatir nih sewaktu-waktu terjadi gempa besar. Kata sensei mulai sekarang harus mempersiapkan diri seandainya sewaktu-waktu terjadi gempa besar. Barang-barang yang perlu dipersiapkan adalah :
Peluit : Digantungkan didompet atau hp. Ditaruh ditempat yang mudah dijangkau saat tidur. Jika kita terjebak dibawah bangunan saat gempa dan tidak bisa teriak (kehilangan tenaga/shock) dan ada petugas yang mencari kita bisa meniup peluit tersebut.
Menyiapkan air putih yang ditaruh dibotol-botol bekas minuman. Bisa ditaruh dibalkon, kamar mandi atau halaman rumah. Karena biasa setelah gempa air dimatikan.
Saat gempa berusaha menyelamatlan diri ditempat aman. Bisa dikolong meja, di kamar mandi atau toilet. Kenapa di kamar mandi atau toilet?? karena pilar-pilarnya tidak terlalu luas. Seandainya rusak masih bisa menyangga.
Segera membuka pintu bila memungkinkan agar tidak mengunci.
Setelah reda berusaha mencari tempat lapang (halaman sekolah-sekolah)
Menyiapkan makanan, duuhhh namanya lupa...semacam roti kering yang berasal dari terigu saja dan sangat awet. (nanti aku tanyakan lagi sama sensei pas les.
Tas darurat yang berisi durat-surat penting (paspor dsb)
Mohon doanya ya teman-teman semoga gempa besar siklus 30 tahunan tidak terjadi, Pun seandainya terjadi tidak terlalu besar dan kita semua diberi keselamatan, Amien.
Tgl 12 Juni, ada peringatan 30 tahun gempa besar didaerah Miyagi. Gempa tersebut terjadi pada tahun 1978. Di TV lokal ada acara khusus memperingati gempa sekaligus memberi peringatan kepada penduduk agar bersiap-siap seandainya gempa itu terjadi lagi. Gempa tersebut diramalkan terjadi dalam waktu dekat ini, diperhitungkan pusat gempanya sama dengan gempa yang 30 tahun lalu. Ada 3 spot dilaut yang patah pada waktu bersamaan 30 taun yang lalu itu.Jadi gempa 30 tahun yg lalu itu benar-benar dahsyat.
Tahun 2005 ada gempa lumayan hebat di Miyagi. Saat itu 1 dari 3 spot rawan tsb patah. Jadi perkiraan gempa yang bakal terjadi ini, bakal di sebabkan oleh sisa 2 spot rawan yang belum patah. Dan tidak ada yang tau kapan patahnya. Semoga saja tidak bersamaan patahnya, jadi gempanya tidak besar.
Sabtu 14 Juni 2008 jam 8.43 JST, saat kami sekeluarga sedang bersantai-santai menikmati hari libur, dikejutkan goyangan yang semakin lama semakin besar. Sebetulnya sudah biasa kita mengalami gempa, tapi tidak sebesar kali ini. Vas bunga diatas lemari terjatuh dan pecah. Apalagi kita dilantai dua, lebih terasa goyangannya. Walaupun sudah sering diberi peringatan apa saja yang harus dilakukan saat gempa, tetap saja kita panik saat itu. Mau sembunyi dikolong meja, tidak punya meja .
Setelah agak reda, kita buka pintu dan melihat keadaan sekeliling. Ternyata aman-aman saja. Kita nyalakan TV, ternyata dari berita diketahui bahwa gempa tadi 7.2 SR . Pantas saja keras banget goyangannya. Tapi hebat rumah Jepang, gempa segitu rumah tidak ambruk. Memang rumah di Jepang didesain tahan gempa sampai 7 SR.
Setelah itu beberapa helikopter seharian terlihat mengudara memeriksa kalo ada kerusakan. Jalur kereta langsung dihentikan. Mobil petugas JR (japanese railways) juga terlihat berpatroli. Gempa2 kecil susulan beberapa kali terjadi. Sempet khawatir terjadi gempa susulan. Jadi takut mau kemana-mana.
Tapi ternyata gempa kali ini masih bukan skenario dari Miyagi Oki Jishin ( bukan pake kanji "ookii besar" tapi kanji okinawa punya "oki" = sama dengan sumatera oki jishin) yang diramalkan terjadi dalam waktu dekat ini. Karena gempa kali ini pusat gempanya di Iwate (darat). Didekat pusat gempanya(Iwate) jatuh korban 6 orang meninggal, beberapa rumah roboh, jembatan putus, bukit longsor dll. Alhamdulillah didaerah Miyagi (tempatku) tidak ada korban jiwa.
Waahh..masih khawatir nih sewaktu-waktu terjadi gempa besar. Kata sensei mulai sekarang harus mempersiapkan diri seandainya sewaktu-waktu terjadi gempa besar. Barang-barang yang perlu dipersiapkan adalah :
Peluit : Digantungkan didompet atau hp. Ditaruh ditempat yang mudah dijangkau saat tidur. Jika kita terjebak dibawah bangunan saat gempa dan tidak bisa teriak (kehilangan tenaga/shock) dan ada petugas yang mencari kita bisa meniup peluit tersebut.
Menyiapkan air putih yang ditaruh dibotol-botol bekas minuman. Bisa ditaruh dibalkon, kamar mandi atau halaman rumah. Karena biasa setelah gempa air dimatikan.
Saat gempa berusaha menyelamatlan diri ditempat aman. Bisa dikolong meja, di kamar mandi atau toilet. Kenapa di kamar mandi atau toilet?? karena pilar-pilarnya tidak terlalu luas. Seandainya rusak masih bisa menyangga.
Segera membuka pintu bila memungkinkan agar tidak mengunci.
Setelah reda berusaha mencari tempat lapang (halaman sekolah-sekolah)
Menyiapkan makanan, duuhhh namanya lupa...semacam roti kering yang berasal dari terigu saja dan sangat awet. (nanti aku tanyakan lagi sama sensei pas les.
Tas darurat yang berisi durat-surat penting (paspor dsb)
Mohon doanya ya teman-teman semoga gempa besar siklus 30 tahunan tidak terjadi, Pun seandainya terjadi tidak terlalu besar dan kita semua diberi keselamatan, Amien.
Subscribe to:
Posts (Atom)